Hujan sore ini telah ingatkanku pada sebuah
ketenangan disebuah rumah sederhana..
tiba-tiba, tangan tirus dekil
mengusap kaca yang berembun, sekarang tampaklah sebuah rumah yang kehujanan.
Sebakul jagung hangat yang baru saja direbus menyadarkanku dari lamunan.
Oh lihatlah wajahnya, semakin layu
dan kecut termakan usia. masih segar dalam ingatanku ketika itu.
Air hujan basahi seragam putih
abu-abuku, air terus mengalir melewati wajahku hingga tiba didepan pintu rumah,
sehelai handuk hangat diberikannya padaku dengan senyum kekhawatiran tampak
jelas diwajahnya. seperti biasa tak kugubris. kini senyum itu, senyum itu..
hadir kembali ditengah dinginnya hujan.
Oh Bunda , jangan menatapku sendu!
apa yg sebenarnya kau khawatirkan dariku. Lihatlah diriku Bunda ,Aku pemuda
yang kuat, meski terkadang sering terkulai lemas berbaring di tempat tidur
rumah sakit. Aku pemuda yang pantang menyerah meski mimpi-mimpiku tinggal
sebatas impian. Bunda, jangan khawatirkan diriku, lihatlah dirimu, kau tampak
kuyu karena terlalu sering mengkhawatirkan diriku..
Oh, dia adalah orang pertama yang ingin kubuat bahagia.. tapi disisa umurku yang tinggal beberapa bulan lagi apa mungkin? oh tidak-tidak umurku masih panjang, mereka semua hanya dokter, ada hak apa mereka menentukan umur orang lain. Mudah bagi seseorang yang digaji full setiap bulannya, menghancurkan harapan seseorang dengan mengatakan "umur anda tinggal beberapa bulan lagi" bla bla bla.. Omong kosong! Oh.. kenapa aku menyalahkan dokter, yang salah adalah diriku, jika alasan tak cukup waktu untuk membahagiakan satu-satunya orang yang paling berjasa dalam hidupku. itu hanyalah sebuah gagasan seorang Pecundang yang tidak pantas mendapatkan kasih sayang dari orang yang begitu mulia. Bodoh! kemana saja kau selama 12 tahun terakhir? hidup untuk bersenang-senangkah? ya.. menyenangkan diri sendiri. benar-benar egois. dimana akal sehatku saat itu?
Terlalu mudah hanyut dalam arus
dunia, harusnya aku mati saja, hingga sesal ini tidak menghantuiku, Oh ini
benar-benar menyiksaku. Aku terkena kutukan itu, hah? kutukan? hobimu hanya
menyesal, untuk apa kau menyesal semua takakan kembali..
TAKKAN PERNAH KEMBALI.
TAKKAN PERNAH KEMBALI.
To be Continue..
No comments:
Post a Comment
Please Leave Your Coment ^_^ Syukron Katsiron